RIWAYAT DAN SEJARAH KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab - MINI RISET AGAMA ISLAM - PESANTREN

RIWAYAT DAN SEJARAH KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab - MINI RISET AGAMA ISLAM - PESANTREN





A.      Biografi KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
Sebelum penulis menguraikan lebih jauh terkait konsep pendidikan qalbu menurut KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab. Maka terlebih dahulu penulis akan membahas terkait tentang perjalan hidup beliau yang meliputi, sejarah kelahirannya, riwayat pendidikannya, pergerakan dakwahnya, dan juga karya-karyanya selama berkiprah dalam dunia pendidikan islam.
1.      Sejarah Kelahiran KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
Beliau lahir tanggal 17 Februari 1955 di Sukabumi, tepatnya di kampung Nagrog Desa Perbawati (dulu Desa Karawang) , dari pasangan KH. Zayadi dan Hj. Halimah .
Garis keturunan dari ibunya adalah KH. Zezen ZA Bazul Asyhab bin Hj. Halimah Binti KH. Abdurrahman Bin KH. Kahfi Bin Ayah Aliman bin abah Syaebah Bin Ayah Gabid Bin Ayah ‘Atshan bin Prabu Washidewa bin Eyang Pangeran Sake bin Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa bin Sultan Abdul Ma’ali Ahmad bin Sultan Abdul Mafakir Abdul Qadir bin Sultan Maulana Nasruddin bin Maulana Yusuf bin Syekh Maulana Hasanudin bin Kanjeng Syekh Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Djati )
            Nama panggilan beliau waktu kecil akrab disapa dengan pnggilan “Utun” , beliau tumbuh dalam sebuah keluarga yang mengutamakan pendidikan agama. Ayahnya mengajarkan beliau tentang dasar-dasar pendidikan agama secara ketat,terutama al-qur’an dan imla. Terlebih ayahnya seorang ulama yang terkenal sebagai ahli ilmu tajwid. KH. Zayadi adalah murid ajengan Pabuaran (Gan Uye) yang memiliki sebutan ’’ Oo Midada’’.
2.      Riwayat pendidikan KH. Zezen ZA Bazhul Asyhab
            Persetentuhan dengan romantika dunia pendidikan dimulai sejak Ajengan Zezen masih usia belia. Beliau sering di ajak berziarah oleh ayah, paman, dan kakeknya ke makam-makam para Wali dan Ulama. Tidak jarang beliau diajak melakukan riaydlah-riyadlah di tempat ziarah tersebut selama berhari-hari. Pengalaman ini, konon mengilhami beliau untuk tetap melestarikan tradisi ziarah sebagai bagian dari diversifikasi dakwahnya hingga hari ini.
            Setelah tamat SR (Sekolah Rakyat) beliau melanjutkan pendidikan pabuaran asuhan KH.Mahmud, untuk mendalami ilmu Tajwid selanjutnya bersamaan dengan mengenyam pendidikan formal Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah (MA) di pondok Pesantren Sirojul Athfal (sekarang al masturiyah) tipar Cisaat Sukabumi asuhan KH. Masthuro. Di pesantren Al Masturiah ini mulai mengenal cara berorganisai yang kelak jadi salah satu medan dakwahnya
            Untung tak dapat diraih malang tak bisa di tolak yang menggambarkan kondisi ajengan Zezen selepas pendidikan nya di pesantren Al Masturiah. Kawan-kawannya, yang lain, melanjutkan ke luar negri, seperti mesir dan nagara lain di timur tengah. namun ajengan Zezen karna keterbatasan kemampuan ekonomi kelurganya lebih memilih melanjutkan “Pesantren” ke Pesantren Sadang Garut sebuah pesantren yang masih terkenal hingga kini dalam pendalaman ilmu alat (Nahwu dan Sharaf ).
            Semangat mencari ilmunya tidak pernah kunjung padam. Selepas dari pesantren sadang, ajengan Zezen berguru lagi kepada KH. Humaidi Cikaret Sukabumi perjumpaannya dengan KH. Humaidi mengawali pengetahuannya tentang berpolitik dan pemerintahan. Karna KH Humaidi selain seorang alim di bidang agama, juga seorang politisi dan menjadi anggota DPR kegigihan beliau untuk mempelajari segala hal yang baru, tiddak di imbangi dengan ketersediaan waktu KH. Humaidi. Melihat kondisi ini KH. Humaidi menitipkan beliau kepada KH. Mahmud Mudrikah Hanafi di Pesantren Siqoyaturahmah bersama KH. Mahmud Mudrikah Hanafi beliau belajar dan menajamkan ilmu Fiqih, Tauhid, Tashawwuf, Ma’ani, Badi, Bayyan, Ushl Al-Fiqih, Musthalah al-hadits dan berbagai disiplin ilmu agama lainnya. 
Kemudian beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Riyadhul Mutafakkirin (sekarang Darul Hikam) Cibeureum asuhan KH. Aang Sadili selama 1,5 tahun. Di pesantren ini beliau mendalami ilmu Balaghoh sehingga beliau mendapat gelar “Abuy Bulagho”, dan beliau belajar petingnya istiqomah bagi seorang pejuang Allah SWT  (Da’i). KH. Aang Sadili Allohuyarham, sepertinya, melihat kepentingan Ajengan Zezen. Dalam pandangannya Ajengan Zezen, bukan saja harus kaya secara ilmu, namun harus teruji secara praktis. Atas dasar itu, disuruhlah Ajengan Zezen  untuk belajar kepada kiayi Muqtadir  Longkewang Cianjur. Bersama kiayi Muqtadir-lah, berbagai disiplin ilmu alat (terutama nahwu dan sharaf) dimatangkan.
Tidak berhenti sampai disi, setelah belajar dengan KH. Muqtadir, beliau melanjutkan perburuan ilmunya dengan mengikuti pasaran kitab Hikam ke Sadang Garut dan Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyyah Cikole Ciamis asuhan KH. Abdurrohman, untuk memperdalam ilmu Fiqih. Disinilah akhir pengembaraannya.
            Sebelum ajengan Zezen pulang kampung melaksanakan titah Allah SWT pada tahun 1978. Tahun itu pulalah Ajengann Zezen mendirikan lembaga pendidikan dengan nama pondok pesantren Darul Falah yang pada awalnya mengadakan pengajian malam hari bagi masyarakat Nagrog, kemudian berkembang dan berubah menadi Pondok Pesantren Darurrohman, dan selanjutnya diubah lagi namanya menjadi Azzainiyyah yang menyelenggarakan penddikan Pesantren Salafi Riyadhul Alfiyyah wal-Hikam, pendidikan formal, mulai dari RA (Roudhotul Athfal), MD (Madrasah Diniyah), MI (Madrasah ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), SMA (Sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan): Otomotif, Manajemen Bisnis, TKJ, Ma’had Ali, dan bekerja sama dengan STAI Sukabumi, pembinaan Yatim dan Duafa, pembinaan Ummat, dan Majlis Dzikir.
            Beliau juga belajar dan memperdalam ilmu Hikmah di beberapa tempat, diantaranya gentur, (Cianjur) Cibaregbeg, Jamudipa dan Pamuragan (Cirebon), Banten sampai berhasil serta diberi wewenang untuk memberikan ijazzah (Mu’jiz Ilmu Hikmah).
3.      Kiprah dalam dunia Tasawuf KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
Dalam dunia tasawuf beliau tercatat telah mengikuti beberapa ordo sufi (Thariqat/Tarekat). Diantaranya Mufaridiyah, Anfasiyah, Rifa’iyyah, dan Tijaniyyah. Barulah, setelah belasan tahun mengamalkan thariqat-thariqat tersebut, pada tahun 1990, beliau belajar dan mengamalkan Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren  Suryalaya.
            Kiprahnya di dunia Da’wah Tasawuf, bermula saat beliau melakukan Ziaroh ke Pondok Pesantren Suryalaya pada tahun 1995. Pada saat itu, beliau belum berguru dengan Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin r.a (Abah Anom), dari Suryalaya. Pada saat itu beliau berhasil menemukan kitab yang selama belasan tahun ia cari, yakni Sirr Al-Asrar, karya Syekh Abdul Qodir Al-Jaelany Q.S
            Ketertarikannya terhadap TQN, diantaranya disebabkan kecocokan prasyarat kemursyidan yang melekat pada Abah Anom. Pada tahun 1990, beliau sempat bermukim dan melakukan riyadhoh di Pondok Pesantren Suryalaya. Pada saat itu, Abah Anom memanggilnya, dan memberikan kepercayaannya untuk mengupas kitab Al-Anwar Al-Qudsiyyah. Setelah itu, beliau dipercaya mengisi “mimbar kehormatan” Abah Anom selama 12 tahun. Dan pada tahun 1994 beliau mendapat kepercayaan menjadi wakil talqin TQN Ponpes Suryalaya. Beliau juga diberi gelar oleh Abah Anom Bazul Asyhab.



4.      Gerakan Dakwah KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
                        Gerakan dakwah beliau melalui banyak perjalanan panjang, bermula dengan mengisi majlis ta’lim  disekitar kampung Nagrog, Reuma, Baksit, Baruroke, Karawang (Sinar Barokah), dan kampung sekitarnya. Mengurus Pondok, umat mulai dari tingkat Nasional sampai Internasional. Seperti seluruh pulau Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Timor Leste, Kamboja, Filipina, Vietnam, India, Mesir, Palestina, Banglades, dan Negara lainnya.
            Kemudian beliau dipercaya sebagai ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) tingkat Desa Perbawati. Kiprah kepemimpinan dakwahnya  meningkat dengan memangku jabatan ketua MUI Kecamatan Sukabumi, dan sampai sekarang menjabat ketua Umum MUI Kab. Sukabumi selama dua periode, selama 2006-2011 dan 2011-2016.
            Pada wilayah gerakan dakwahnya yang lebih luas, beliau melakukan gerakan bersama, dengan melibatkan Alim’ Ulama, Sufi, Ormas-ormas Islam, Budayawan, Seniman, dan Pemerintah, sebagai perwujudan cita-cita besarnya sejak awal; yakni Penegakan Syariat Islam (PSI). Akhirnya, pada tanggal 10 Muharram 1423 H / 24 Maret 2002 M, PSI dideklarasikan, dan dilanjurtkan dengan Kongres Umat Islam Sukabumi di Stadion Korpri Gelanggang Olah Raga Cisaat, yang dihadiri lebih dari 10.000 umat Islam sekabupaten Sukabumi.
            Dukungan terhadap PSI tidak hanya sampai pada deklarasi. Untuk kerangka gerakan praktis, PSI tingkat Kab. Sukabumi didesain secara konseptual dalam “Buku Panduan PSI” yang disebut Buku Hijau. Gerakan praktis PSI kemudian disebut IQOMAH (Ikatan Penggerak Qoryah Mubarokah), dengan tanpa meghilangkan semangat PSI-nya yang lebih luas. Gagasan tentang IQOMAH ini disambut baik oleh Gubernur  Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Pada tanggal 24 Sya’ban 1429 H/28 Agustus 2008 M, dideklarasikanlah kesepakatan membangun Qoriyah Mubarokah dan Kabupaten Sukabumi sebagai pilot project tingkat Jawa Barat dengan Komposisi Tim Penggerak IQOMAH sebagai berikut :
1.    Bupati Sukabumi
2.    Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi
3.    Kepala Kantor Departemen Agama Sukabumi
4.    Dandim 0607
5.    Kapolres Sukabumi
6.    Kapolresta Sukabumi
7.    Kepala Kejaksaan Negeri Cibadak
8.    Kepala Pengadilan Negeri Cibadak
9.    Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kab. Sukabumi
10.  Ketua umum MUI Kab. Sukabumi
              Gagasan PSI model ajengan Zezen bukan dalam bentuk Peraturan Daerah (PERDA) sebagaimana umumnya dikenal di tempat lain. Model PSI gagasan ajengan Zezen lebih mengutamakan semangat pelaksanaan Ajaran Islam secara sungguh – sungguh. Beliau menyematkan nomenklatur PSI-nya dengan “Penegakan Rukun Islam Secara Benar dan Sungguh – Sungguh”.
              Semangatnya yang tidak pernah padam, atas cita- citanya menegakan syariat islam, gerakan ini beliau bawa ke level nasional. Pada saat dalam Musyawarah Nasional (MUNAS­­) VII dan Milad Majlis Ulama Indonesia (MUI) ke – 35 tanggal 25-28 juli di Hotel Twin Plaza – Jakarta, beliau mengusulkan agar “Pelaksanaan Rukun Islam Secara Benar dan Sungguh – Sungguh”. Menjadi program kerja MUI pusat. Hasilnya, gagasan tersebut diterima, dan menjadi “Gerakan Nasional Pengamalan Ajaran Islam Khususnya Rukun Islam Secara Benar dan Sungguh-sungguh”.
              Selanjutnya pada tanggal 21 Juni 2015 bertepatan dengan tanggal 4 Ramadhan 1436 H beliau mendeklarasikan Majlis Iqomah Nusantara yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai Provinsi di Indonesia dan beberapa utusan dari Negara lain.
              KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab Kiyai yang sering disapa akrab dengan panggilan akrab Ajengan Zezen atau Uwa Imam adalah sosok kiyai kharismatik dan tidak pernah surut dari  semangat jihad dalam menegakan agama Allah SWT . Beliau paling tidak suka mendengar orang meremehkan agama, mendengar Islam dilecehkan, mendengar Islam dalam tekanan, dan melihat pengamalan terhadap ajaran yang tidak sepenuh daya.
              Beliau tidak pernah membumingkan pergerakannya dalam entertainment. Senantiasa memulainya dari yang paling bawah  yaitu membina masyarakat yang berada di lingkungan kampungnya sendiri sebagai pilot project. Beliau telah berhasil membuktikan membina masyarakat yang tadinya selalu hidup dalam aturan yang jauh dari agama, hingga menjadi masyarakat yang cinta agama dan tidak membangkang terhadap agama. Masjid selalu diramaikan dengan berjamaah dan dzikir yang selalu menggema. Menambah asrinya suasana pegunungan kampung Nagrog yang begitu indah. Ditambah lalu lalang santri yang pakaiannya tampak rapi dan kitab dipeluk didadanya. Sungguh pemandangan yang begitu indah dan mengharukan.
              Sangat langka Allah SWT  memberikan Mujahid bagi para hambanya di alam semesta ini. Beliau adalah milik Allah SWT yang telah diambil kembali oleh pemiliknya bertepatan dengan hari kamis tanggakl 19 November 2015/ 7 Shofar 1437 H.
5.      Guru-guru KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
              Apabila seseorang ingin menjadi Raja maka mesti berdiri diatas pundak para raja. Dalam hal ini Guru yang dapat membina dan mendidik muridnya agar menjadi ulama. Begitu  juga KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab sebelum keulamaannya disandang tentu banyak guru yang membimbing dan membinanya sehingga keilmuan dan akhlak mulianya tidak diragukan. Diantara Masyayikh yang menghantarkan beliau menjadi Mujadid dalam pergerakan dakwah Islam sebagai berikut:
a.       KH. Abdurrohman (Karawang Kulon Sukabumi)
b.      KH. Mahmud / Gan Uye (Pabuaran Sukabumi)
c.       KH. Masthuro (Al-Masturiyah Sukabumi)
d.      KH. Muqtadir / Pangersa Emang (Longkewang Cianjur)
e.       KH. M. Mudrikah Hanafi (Siqoyyaturrahmah Sukabumi)
f.       KH. Aang Syadzili (Darul Hikam Cibeureum Sukabumi)
g.      KH. Mama Syuja’I (Ciharashas Cianjur)
h.      KH. Nu’man (Riyadlul Al-Fiyyah Sadang Garut)
i.        KH. Abdurrohman (Miftahul Huda Utsmaniyyah, Cikole Ciamis)
j.         KH. Aang Endang (Jamudipa Cianjur)
k.       KH. Aang Hambali (Bojong Koneng Cianjur)
l.         KH. Ahmad Shahibul Wafa Tazul Arifin (Suryalaya Tasikmalaya)
6.      Pengalaman organisasi dan Karier KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
              Semasa hidupnya, KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyab tidak pernah surut dari perjuangan penegakan agama Allah SWT , dan diantara amanat yang dia emban antara lain sebagai berikut :
a.       Wakil Rois Syuriah Pimpinan Nahdlatul Ulama (PWNU)
b.      Rois Aliyyah IV Jam’iyyah Ahlith- Thoriqoh Al – Mu’tabarah an            Nahdliyyah (JATMAN).
c.       Penasihat Forum pesantren se – Kabupaten Sukabumi
d.      Ketua Thariqat Nahdlatul Ulama (NU)
e.       Ketua Forum Mubaligh Sukabumi
f.       Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi
g.      Dewan KUN (Kekeluargaan Ulama Nusantara)
h.      Sesepuh Pondok Pesantren Azzainiyyah
i.        WIDYAISWARA. Instruktur Diklat Aparatur Pemerinta Badan Diklat Sukabumi
j.        Ketua Pertimbangan Badan Amil Zakat (BAZ)
k.      Anggota dewan kehormatan dan dewan Pembina gerakan pramuka KWARCAB  Kab. Sukabumi. Pencipta lagu Pahlawanku, dan lagu Hymne, mars, dan pramuka jembatan emas.
l.        Penasihat KNPI kab. Sukabumi
m.    Penasihat Majelis Dakwah Islamiyyah (MDI) kab. Sukabumi
n.      Penasihat Forum Komunikasi Mesjid (FKM) kab. Sukabumi
o.      Penasihat Dewan Masjid Indonesia (DMI) kab. Sukabumi
p.      Staff Ahli MUI Provinsi Jawa Barat
q.      Alumni ESQ Eksekutif tahun 2008
r.        Dewan JAM’IYAH AHLITH THORIQOH AL MU’TABAROH ANNAHDILIYYAH JAWA BARAT
s.       Wakil Ro’is Nahdlatul Ulama Jawa Barat
t.        Penasihat ICMI Jawa Barat
u.      Pembina Kajian tasawuf Majelis Dzikir dan Manaqib TQN ASEAN
v.      Dewan Pembina Asosiasi Sufi Internasional
w.    Dewan  ICIS (Internasional Conference Of Islamic Scholer
x.      Anggota dewan pakar dewan pendidikan kab. Sukabumi
y.      Wakil Talqin Thariqat Qodariayyah an- Naqsabandiyyah
7.      Karya – Karya KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyab
              Gajah mati meninggalkan gading harimau mati meninggalkan belang, maka Ulama wafat meninggalkan Karya. Sebagai warisan untuk generasi penerus perjuangan para Rasul dan para Nabi dalam mensyi’arkan islam. Terdapat beberapa karya tulis dan karya seni beliau semasa berjuang diantaranya sebagai berikut.
`1. Karya Ilmiah
a.       Kitab Fadhoil Suhur
b.      Terjemaah Tafsir Jaelani
c.       Kajian kitab Al hikam
d.      Kajian Kitab Miftah Al- Shudur
e.       Konsep Murokoqobah
f.       Terjemaah Kitab Sirur Ar Asrar
g.      Tarbiyatul Aulad
h.      Tuntunan Haji Wal Umrah Sufi
i.        Buku 10 Pembiasaan Ahlak Mulia di Sekolah
j.        Buku penegakan IQOMAH
k.      Buku Dari Salik Menuju Sang Kholik
l.        Buku Jamiatu Aurod
m.    Nazdham Ilmu Nahwu
n.      Nazdham Ilmu Sorof
o.      Nazdham Ilmu Tajwid
p.      Nazdam Para Wali
q.      Nazdam Tolab ilmu
r.        Tarkiban
s.       Dasar Iro’ban
2.         Karya Seni
a.       Pencipta HYMNE Sukabumi
b.      Pencipta MARS Sukabumi
c.       Pencipta PRAMUKA JEMBATAN EMAS
d.      Pencipta KERONCONG SUKABUMI
e.       Pencipta PAHLAWANKU
f.       Pencipta OH GURUKU
g.      Pencipta TEBUS PANDANG
h.      Pencipta MENGINGATMU YAA ALLAH SWT
i.        Pencipta Lagu – lagu JAZERA BAND
j.        Pencipta Lagu – lagu Marawis
k.      Pencipta NAZDAM IQOMAH
l.        Dll.
8.      Pergerakan KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
              Menurutnya beliau satu – satunya bendera persatuan umat islam sedunia ini adalah kalaimat “ Laa Illaaha Illalloh”  Tiada Tuhan Yang wajib di sembah, di imani sealin Allah SWT. Sebagai ulama sufi, ulama pergerakan, ulama politisi, ulama pemerintahan dan orang organisasi, beliau tetap bisa memiliki sikap yang “Open Minded” dengan banyak kalangan dan organisasi di Asia terutama Indonesi.
              Pangersa Uwa di mata para kiyai merupakan Ulama besar yang terang benderang saat ini, kefaqihan dan kesolehannya serta intelektualitasnya yang menjadikan beliau sosok ulama panutan, yang memang ulama ahli ilmu bukan kiyai biasa.
              Beliau di masa hidupnya sebagai penerang umat, pemersatu umat, golongan, dan kelompok  organisasi, terutama panutan jama’ah Tareqat Qodariyah Naqsabandiyah (wakil talkin), ulama yang dengan ketingian ilmunya di hormati pemerintahan dan tokoh umat islam lainnya, dan merupakan sang deklaarator Penegakan Syariat Islam (PSI) di Kabupaten Sukabumi. Guru yang di segani, seorang peminpin dalam organisasinya, seorang imam, dan salah satu pencetus kemakmuran masjid terutama di kabupaten Sukabumi dan di antra gerakannya sebagai berikut:
a.       Pendriri IQOMAH (Ikatan Qoriyyah Mubarokah) Nusantara
b.      Deklarator PERDA 10 Pembiasaan Akhlaq Mulia di Sekolah
c.       Pencetus Infaq 2,5 % di Indonesia
d.      Pencetus Zakat Profesi
e.       Pencetus Infaq Rp. 1000 per hari
f.       Pengelolaan BAZ terbaik di Indonesia
g.      Pemersatu Umat
h.      Deklarator penegakan Rukun Islam Secara Benar dan Sungguh – Sungguh Tingkat MUI Nasional
i.        Dan lain - lain
9.      Wasiat KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab
              KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyab berwasiat sebelum wafat yang sering di sebut “6 WASIAT UWA” yang di jadikan pegangan oleh jamaah dan murid – muridnya
Bismilahirrohmanirrohim
(Dengan didasari kasih sayang dan juga ikhlas karena Allah SWT ). Uwa Berwasiyat kepada semuanya:
1.      Harus kuat iman dan taqwa kepada Allah SWT , mengikuti semua perintah Allah SWT dan rasulnya, jauhi segala laranganya serta jangan keluar dari Ahlussunah Wal Jamaah
2.      Laksanakan ibadah wajib dan sunatnya
3.      Ikuti pemerintah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan agama
4.      Harus rukun sesama saudara, jangan bersengketa  Uwa tidak rela kalau sampai ada persengketaan, apalagi karena berebut kekuasaan dan harta. Jauhi segala sebab yang memicu segala persengketaan, Maafkan jika orang lain salah dan segera meminta maaf jika kita yang salah.
5.      Harus saling menyayangi, jangan acuh terhadap saudara yang kekurangan, janagn iri dengki kepada mereka yang mengalami kemajuan.
6.      Lanjutkan perjuangan Uwa dalam membela agama, bangsa dan Negara,ngawuruk santri, berdo’a, membalas jasa orang lain,da’wah, jihad, dan sebagainya, sesuai dengan kemampuan masing – masing, jangan di ikuti kalau ada perbuatan uwa kurang baik.

B.   Pemikiran KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyab tengtang pendidikan  Qalbu
I.     Pengertian Pendidikan Qalbu
Pendidikan qalbu terbagi dua kata, yaitu pendidikan dan Qalbu pendidikan berasal dari kata “education”  yang berarti melatih, mendidik, mengajarkan . pendidikan adalah suatu proses pelatihan di mana terdapat dua subyek yang saling berhubungan antara pendidik dan yang di didik
Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar yang di lakukan manusia untuk membawa pengetahuan dan keterampilan menuju kedewasaan dalam arti mampu memikul tanggung jawab moral. Dalam UU Sisten Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 ayat 1, yang di kutip dari buku Prof. DR. H. Endin Nasrudin, (psikologi pembelajaran 2017: 53)  yaitu :
pendidikan merupakan suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan pendidikan atau pembelajaran”. Secara lengkap pendidikan dapat di artikan menurut Prof. DR. H. Endin Nasrudin (2017: 53), “ pembelajaran ialah suatu proses yang di lakukan  oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan”.
Dari uraian di atas dapat di pandang bahwa manusia perlu di bantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat di katakan telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena sejak dahulu banyak manusia yang gagal menjadi manusia, jadi tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Agar tujuan itu dapat di capai dan program dapat di susun, maka cirri –ciri manusia yang sudah menjadi manusia dan terdidik, Ahmad Tafsir (2012:33)  mengatakan tiga syarat untuk di sebut manusia. Pertama, Memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; kedua, Cinta terhadap diri, sesama, alam dan tuhannya; ketiga, Berpengetahuan dan berketrampilan.
KH.Zezen Zainal Abidin BA mengutip dalam kitab Sirrul Al-Asrrar (2013 : 4 )  karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani sebagai mana dikatakan:
اِعْلَمْ أنَ الشَقاوَةَ تَتَبَدَلُ بالسَعاَدَةِ وَالسَعَادَةُ تَتبَدَلُ بِأ ألشَقَاوَةِ بِا لتَرْبِيَةِ (سرالأسرار :4)
Artinya : “ketahuilah bahwa sesuhguhnya kesengsaraan dapat berubah menjadi kebahagaan, dan sebaliknya kebahagian dapat berubah  menjadi kesengsaraan dengan melalui pendidikan” ( Sirur Al Asrar 2013 :4)
Dengan uraian diatas menunjukan bahwa proses pendidikan dalam islam mempunyai kedudukan yang sangat startegis dan sangat penting dalam membawa manusia kepada jalan yang di ridhoi Allah SWT . Dengan prisip pengolahan dan pembentukan akal supaya pandai dan qalbu supaya penuh dengan keimanan terhadap Allah SWT . Diantara cirri – cirri manusia sempurna menurut islam adalah sebagaimana di kemukakan Ahmad Tafsir  sebagai berikut
Ø  Jismaninya sehat serta kuat
Ø  Akalnya cerdas sera pandai
Ø  Qalbunya bersih, suci srta penuh iman kepada Allah SWT
Ketiga aspek tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tidak dapat di pisahkan dan saling melengkapi kesempurnaannya pada diri manusia. Keseimbangan dalam pendidikan jismani, akal, dan kalbu adalah suatu keharusan demi terwujudnya generasi paripurna. Sehingga manusia yang dipengaruhi oleh factor pembawaan (kemampuan dasar) dan faktor lingkungan, dapat tumbuh dan berkembang melalui proses saling berinteraksi dalam pembentukan watak dan kepribadian muslim yanga benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang menguasai alam, yaitu Allah SWT Ta’ala
 Sedangkan kata qalbu berasal dari bahasa arab  قلب – يقلب- قلب artinya merubah membalikan (A.W Munnawwir 1997 : 1145) dalam kamus ini “ Al – Munawwir” kata “ Al –  Qalbu di artikan “ al – Aqlu” atau “ Al – Lub” yaitu hati, isi, lubuk hati. Sedangkan menurut kamus Al marbawwi pengertian Qalbu adalah “Fuad”, “Lub”, “Aql”. Yaitu hati, akal, dan liver.
Adapun yang di maksud Qalbu dalam pembahasan ini bukan qalbu Jismani, tetapi qalbu yang mempunyai potensi Rohani, halus dan lembut tidak bersifat kebendaan. Penangkapaan hakekat sesuatu yang terpantul diatasnya (qalbu), sebagaimana diibaratkan terpantulnya gambar – gambar di atas cermin.
Syaikh Al – Hujatatul Islam Imam Al –Ghozali membuat definisi dalam kitab Ikhya Ulumuddin juz 3:3 sebagai berikut
لطيفة ربا نية روحا نية لها بهد القلب الجسمانى تعلق وتلك اللطيفة هى حقيقة الأنسا ن وهو المدرك العالم العارف من الأنسان وهو المخا طب والمعاقب [ إحياء علوم الدين:3:3]
Artinya:  qalbu adalah dzat halus bersipat ketuhanan dan ruhani, dia dengan ini ada  kaitannya dengan qolbu jismani,dan dzat halus ini pokok (Inti) hakekat manusia, yang mempunyai kemampuan memahami dan menderita. (Ikhya Ulumuddin Jilid 3 : 3)
Dalam sumber literature pakar ke islaman menurut KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab (Dari Salik menuju Sang Kholiq :64) yang di kutip Ahmad tafsir kata “AL-Qolb’’ dan “Al-Qulub  tertulis 132 kali dalam Al-quran di samping kata fuad yang secara bahasa berarti Qolb, selain itu juga di gunakan kata “shadr” dan “shudur” yang berarti dada, tetapi menunjukan kepada qolb. Adapun kata ruh menurut KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab yang di kutip Quras Syihab terulang sebanyak 20 kali dengan berbagai konteks dan berbagai makna dan tidak semua berkaitan dengan manusia. Adapun kata akal dalam Al-Qur’an sebanyak 49 kali dan semua berbentuk kalimat fiil (kata kerja), sedangkan kata “Al-Albab” Zama kata “Lubbun” yang berarti akal terdapat 16 kali dalam Al-Qur’an

Dan menurut efistimologi pengertian qalbu tebagi beberapa banyak pengertian, sebagian ulama ada yang mengatakan qalbu adalah daging yang berbentuk buah shanubar ( bundar memanjang ) yang terletak pada pinggir dada sebelah kiri. Dan yang berpendapat qalbu adalah yang halus (lathifah) percikan rohaniyah ketuhanan yang merupakan percikan ketuhanan yang merupakan hakikat manusia. Dalam pengertian ini qalbu merupakan ruh insani yang memikul amanat Allah SWT yang tersimpan dalam dirinya sebagai mana di katakana dalam Al - Qur’an  surat Al-Ahzab ayat 51 :
…..وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمٗا
51.Dan Allah SWT mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan Imam Ghazali mengatakan dalam Kitab Sirrajul Thalibin Syekh Ihsan Muhamad Dahlan  (1955 : 393)
فَا نْظُرْ مَا ذَا يَعْلَمُ مِنْ قَلْبِكَ [من سرج الطا لبين:393]
Artinya:  maka ketahuilah oleh kalian  apa yang ada dalam hati kalian”.(min Siroju thalibin:393)
Dari pedapat diatas dapat di katakana bahwa qalbu adalah tempat cahaya Allah SWT yang di selipkan dalam diri manusia. Dan memiliki potensi positif, potensi negatif. Potensi positif bisa membawa pemiliknya kepada kehidupan bahagia dengan kelapangan dada, dan potensi negatif akan membawa pemiliknya kepada kesengsaraan hidup dengan kesempitan Qolbu. Konsep  qalbu dalam hal ini akan menata qalbu supaya selalu berada pada posisi positif dan menjauhkan qalbu dari pengaruh negatif.
KH. Zezen Zainal Abidin mengatakan dalam kajian Kitab Al Hikam karya Ibnu Athailah (2011 : 28) “bahwa Qalbu adalah dimensi abstrak pada diri manusia”. Yang harus di jaga dengan baik, di fungsikan sesuai aturanya untuk membawa manusia ke tahap ma’rifat terhadap Allah SWT . Dan selanjutnya di artikan Lathifah, yang memiliki pengetahuan dan pemahaman dan ia merupakan salah satu arti qalbu, dan inilah yang dimaksud Allah SWT  dalam Al - Qur’an surat al Isra ayat 85 :
وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا
85: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
1.    Qalbu Sentral Aktifitas Manusia
Apabila manusia telah mengenal dirinya maka dia mengenal tuhanya, untuk mengenal dirinya tentu harus mengenal potensi dari kemanusian itu itu sendiri,yaitu qalbu.dengan mengenal qalbu. Maka kenal akan dirinya dan mengenal dengan Tuhannya dan yang lainya.
Sebagai mana hadits nabi yang di kutip KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyab dalam kitab Sirur Al Asrar mengungkapkan :
مَنْ عَرَف نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَهُ [من سرر السرر:23] 
Artinya: Barang siapa mengetahui ( Mengenal, Memahami,) dirinya. maka Allah SWT akan mengetahuinya ( Sirrul Asror (1996:23)
Manusia di ciptakan di dunia tiada lain hanya untuk beribadah menyembah kepada kepada Allah SWT. Manusia dianugrahkan satu potensi yang dapat memberikan peranan optimal dalam dirinya di samping potensi jismani dan akal, yakni “qolbu”. Dengan qolbu dapat berkarya, berimajinasi, mengefresikan sebuah keindahan merasakan suatu penderitaan, kesenangan. Dan bisa menentukan dirinya dekat dengan Allah SWT atau jauh dari Allah SWT. karna dengan qolbu pula akan mengetahui kualitas, kuantitas, dan identitas diri seorang manusia sehingga bisa menangkap cahaya Allah SWT dan dapat berma’rifat serta Taqorub Ilalloh.
Itulah qolbu sebagai kata hati yang telah di berikan Allah SWT maka munculah yang di sebut nurani, intuisi, atau dalam bahasa Al-Quran firasat sebagai mana Imam Ghozali mengatakan dalam kitab Sirraju Tholibin Karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan (1955 : 392)
لِأَنَ الْمُعَاملةَ مَعَ عَلاَمُ الْغُيُوْبِ خَطَرٌ خَطيْرٌ
Artinya: “karna sesungguhnya beramal dengan tidak terlihat itu lebih mulya. (Sirraju Thalibin 1995:392)
Apabila diibaratkan sebuah kendaraan, peranan qolbu adalah sebagai sopir (Driver). Seluruh anggota badan sebagai prajurit tubuh dan komponen lain berupa akal dan panca indera ataupun penumpang yang ada dalam tubuhnya bagikan sebuah kendaraan. Maka disini, baik buruknya, selamat celakanya qolbu mempunb nyai peranan yang sangat menentukan. Apabila qolbunya rusak maka seluruh armadanya rusak pula begitupun sebaliknya akan selamat dalam perjalanan apabila qolbu tersebut dalam keadaan sadar.
Aspek spiritual yang didominasi oleh qolbu adalah aspek yang sangat penting. Dalam sumber ajaran Islam, Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuknya bahwa qolbu adalah sentral dari seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan ini. Pusat dari aktivitas manusia tidak ditentukan oleh jasmani yang sehat, kuat dan perkasa ataupun daya kekuatan berfikir yang kuat pula, melainkan terdapat pada qolbu. Sebagaimana Rasululllah SAW telah menegaskan di dalam hadistt :
إن فى الجسد إبن ادم مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله إلا وهي القلب
Artinya : sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah semua anggota jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh anggota jasadnya. Ingatlah bahwa  ia adalah qolbu (shohih muslim, jilid 1,2000:19)

Dalam kitab Saadah Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa qolbu sebagai sentral kehidupan manusia memiliki tentara untuk membantu kerjanya adalah :
a.       Syahwat, kerjanya adalah makan, minum, dan bersetubuh (seks) dan sebangsanya sebagaimana perilaku hewan
b.      Amarah, yang kerjanya membunuh, bermusuhan dan memukul yang memiliki kesamaan dengan binatang buas
c.       Nafsu, kerjanya menipu, mengeluh, dan berdusta, yang memiliki kesamaan dengan perilaku syaithan
d.      Aqal, kerjanya mendapat rahmat, pengetahuan dan kebajikan yang memiliki kesamaan dengan malaikat Allah SWT.
Qolbu manusia secara fitrah mampu menerima kehadiran malaikat maupuan syaithan, keduanya merupakan tarik menarik yang terjadi didalam qolbu, perang antara nafsu dan agama terus bergejolak, ketika salah satunya mendominasi maka disitulah keadaan qolbu ditempati, nafsu dan amarah adalah ladang subur merajalelanya syaithan.sehingga rasulullah menggambarkan dalam sebuah hadistnya tentang tarik menarik di dalam qolbu ini. Dalam kitab Shohih Muslim sebagai berikut:
فى القلب لمتان لمة من الملك أيهاد بالخير وتصديق بالحق فمن وجدج ذلك فليعمل أنه من الله سبحانه وليحمد الله ولمة من العدو و إيعاد بالشر وتكذيب بالحق ونهى عن الخير فمن وجد ذالك فليستعد بالله من الشيطان الراجيم ثم تلا فوله الشيطان يعدكم بالفقر ويأمركم بالفحشاء (رواه الترمذى)
Artinya : pada qolbu itu ada dua tarikan, yang satu dari malaikat,yaitu perjanjian dengan kebaikan dan pembenaran dengan yang hak. Maka barang siapa yang memperoleh yang demikian, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah SWT dan hendaknya ia memuji kepadanya, dan yang satu tarikan lagi dari musuh ; yaitu perjanjian dengan syaithan,dengan kejahatan dan pembohongan terhadap yang benar kepada kebaikan barang siapa yang memperoleh yang demikian hendaklah ia berlindung kepada Allah SWT dari godaan syaithan yang terkutuk,kemudian membacakan firman Allah SWT:(”syaithan menjanjikan kemiskinan kepada kamu dan menyuruh mengrjakan perkataan keji (HR. Tirmidzi kutifan Shohih Muslim 2000: 23)

Apabila kekuatan nafsu dan amarah keluar dari fungsinya sehingga qolbu tidakn dapat mengendalikannya, maka nafsu dan amarah menjadi sekutu syaithan  dan berakibat qolbu tidak berfungsi.
2.      Fungsi dan ragam Qalbu
Qolbu mempunyai karakteristik lentur dan fleksibel terhadap sesuatu yang mempengaruhinya pengaruh datang baik dari dalam atau dari luar qolbu itu sendiri karena itu qolbu bersifat bolak balik. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda dalam kitab Sirroju Thalibin Karya Syekh Ahmad Ihsan 1955: 395:
قلب المؤمن اشد تقلبا من القدر فى غليانها (رواه احمد)
Artinya : qolbu orang mukmin itu sangat bolak balik disbanding suatu bejana yang sedang menggolak karena panasnya. (HR.Ahmad,Sirroju thalibin 1955:395 )
Qolbu sebagai esensi manusia hakekatnya mempunyai fungsi dan suatu amanat yang harus di laksanakan, suatu amanat besar yang seluruh makhluk menolaknya, yakni menjadi khalifah dibumi ini.
Firman Allah SWT dalam surat Al- Baqoroh ayat 30:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)

Didalam kitab Minhajul Abidin, ( 1955 : 393 – 395 ) karya Imam Al – Ghozali diterangkan tentang fungsi qolbu dalam diri manusia dalam kehidupannya :
a.       Qolbu adalah tempat penglihatan Allah SWT  (Al Ghafir :19)
يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
ِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.(ash- shura :24).( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمۡۚ
Dan Allah SWT mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu (Al Ahzab :51). (Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
b.      Qolbu adalah raja yang di taati dan pemimpin yang di ikuti
أُنَ القَلْبَ مَلِكُ مَطَاعٌ وَرَئيِسٌ مُتَّبَعٌ, فَـالْأَ عْضَاءُ كُلَهَا تَبَعٌ فَإذَ صَلَحَ المَتْبُوعُ صَلَحَ التَّبَعُ, وَ إذَا تُسْتَقَامَ المَلِكُ اُسْتَقَامَتِ الرَّعِيَةْ .(من سراجل العبدين:394)
                    Qolbu adalah raja yang di taati dan pemimpinnya yang di ikuti, apabila baik yang di ikuti maka baik pula yang mengikuti, Apabila raja itu tenang maka tenang pula rakyat nya.  
          إنَّ فى الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ,أَلاَ وَهِىَ الْقَلبُ (رواه البخار و المسلم)
Artinya : “ sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak juga seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia qalbu. (HR. Bukhari, 52 : 2003)
c.       Qolbu adalah Khizanah (tempat penyimpanan).
اَنَّ القَلْبَ خِزَانَةُ كُلُ جَوْهَرٍ لِلْعَبْدِ نَفَيْسِ وَكُلُ مَعْنَى حَطِيْرٍ أَوَّلُهَا, وَأجَلُهَا مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالى اَلَتِى هِيَ سَبَبُ سَعَادَةِ الدَّارَيْنِ(من السراج الطالبين :398)
Artinya: Qolbu adalah Khizanah (tempat penyimpanan). seluruh jauhar yang berharga dan essensial yang dimiliki manusia, yaitu  : Akal, ma’rifatullah, niat ikhlas, ilmu, hikmah, dan akhlak mulia dan dengan jauhar ini manusia memperoleh kemajuan dan keutamaan yang pada akhirnya memperoleh kebahagiaan didunia dan akherat.
Imam AL-Ghozali mengilustrasikan mendudukan qolbu sebagai khizanah pengetahuan kubah yang memiliki banyak jendela,cermin yang memantulkan segala sinar yang dating, kolam muara berbagai jenis air dari berbagai parit.
Dalam hal ini Allah SWT  telah menjelaskan dalam Al - Qur’an fungsi qalbu sebagai pusat penalaran, pemikiran dan kehendak yang mempunyai peranan untuk berfikir. Di dalam Al - Qur’an surat Al – Hajj ayat 46 :
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ
46.  maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.( QS. Al Hajj : 46. Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004  )
Al - Qur’an pun membahas tentang qolbu sebagai pusat keimanan dalam surat Al Hujjarat ayat 14 :
۞قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ
14.  Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Qalbu sebagai hakekat manusia yang berkaitan dengan qalbu jismani merupakan sentral aktivitas organ tubuh, kesempurnaan organ tubuh lainnya bergantung kepadanya, oleh karenanya qalbu qolbu merupakan barometer baik buruknya seluruh organ tubuh manusia.
3.      Penyakit – Penyakit qalbu
Manusia sebagai khalifah paling mulya  di muka bumi dan syetan sebagai penjerumus manusia dari jalan kebenaran. Dalam diri manusia di bekali akal, nafsu dan qalbu untuk melawan syetan agar menebuskan dirinya terhadap Allah SWT  dengan ketakwaan dan kesucian dirinya. Sebagai mana di tuliskan dalam al – quran surat At – Tiin ayat 4 :
لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ
4.  sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Manusia yang mulia di sisi Allah SWT adalah manusia yang bertaqwa yaitu selalu yang selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya. Dalam kehidupan sehari -  hari tidak sedikit manusia yang senantiasa melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan jauh dari perintah Allah SWT  telah menyimpang dari tugasnya semula. Ini di sebabkan manusia senantiasa di ganggu dengan empat hambatan besar ketaqwaan yaitu, nafsu, dunia, sesama manusia dan setan. Sebagai mana firman Allah SWT dalam Al – Qur’an surat yusuf ayat 53 :
۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
53.  Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan di bagian lain firman Allah SWT dalam Al – Qur’an surat yasin ayat 60:
۞أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ
60.  Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",(Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dari uraian firman Allah SWT  diatas sangat jelas sekali bahwa yang paling berperan dalam hambatan menuju ketakwaan yaitu nafsu, diri kita, dan syaithan. Mengenal dan mengetahui nafsu itu salah satu sebab makrifat dan taqorrub kepada Allah SWT . Para ulama’ ahli tasawwuf berkata :
( 1). والجهل با لله حرام ومعرفة الله واجب 
Bodoh (tidak mengenal) Alloh itu hukumnya haram, dan makrifat (mengenal) Alloh itu hukumnya wajib. (kitab  جامع الاصول  hal 228).                                 
(2). اعلم ان معرفة النفس فرض عين لكل فرد من افراد الإنسان لأن معرفة     الرب موقوفة على معرفة النفس لقوله عليه الصلاة والسلا
من عرف نفسه فقد عرف ربه”.
Artinya:  “Ketahuilah bahwa sesungguhnya mengetahui nafsu itu hukumnya wajib atau fardhu ‘ain, pada tiap-tiap manusia, sebab mengenal Tuhan itu syaratnya harus mengenal nafsunya. Karena Nabi telah bersabda : barang siapa mengenal nafsunya maka ia bisa mengenal Tuhannya. (Dalam kitab  جامع الاصول karya syaikh Ahmad Al Khomisykhonawy hal 230).
Dan dari urang diata maka wajib hukumnya bagi setiap manusia untuk mengenal Allah SWT .Dalam kitab qhatrulghais halaman 6 karangan syekh Nawawi Al Jawi di katakan bahwa nafsu tebagi tujuh bagian :
فاالنفس سبع مرا تب أمارة و محلها الصدر وجنودها البخل والحرص والحسد والجهل والكبر والشهوة والغضب, ثم لوامة ومحلها القلب وهو تحت الثدي الا يسر بقدر أصبعين  وجنودها اللوم والهوى والمكر والعجب والغيبة والرياء والظلم والكذب والغفلة, ثم ملهمة ومحلها الروح,وهو تحت الثدي الأيمن بقدر أصبعين  وجنودها السخاوة والقناعة والحلم والتواضع والتوبة والصبر والتحمل. ثم مطمئنة ومحلها السر وهو في جانب الثدي الأيسر بقدر أصبعين إلى جهة الصدر وجنودها الجود والتوكل والعبادة والشكر والرضا والخشية, ثم الراضية ومحلها سر السر ولعل المراد بها القالب بالألف بعد القاف وبفتح اللام وهو جميع الجسد وجنودها الكرم والزهد والإخلاص والورع والرياضة والوفاء, ثم مرضية ومحلها الخفي وهو في جانب الثدي  الأيمن بقدر أصبعين إلى أوسط الصدر وجنودها حسن الخلق وترك ماسوى الله واللطف بالخلق وحملهم على الصلاح والصفح عن ذنوبهم وحبهم والميل اليهم لإخراجهم من الظلمات طبائعهم وأنفسهم الى انوار ارواحهم, ثم كاملة ومحلها الأخفى
وهو وسط الصدر وجنودها علم اليقين وعين اليقين وحق اليقين
( قطر الغيث : ص: 6 )
Maka nafsu dalam diri manusia terbagi tujuh tingkatan :
a.       أمارة  ( Amaroh Bissu’) yaitu Nafs’ yang selalu memerintahkan kejelekan.  tempatnya di  bagian depan kepala, tempatnya diantar dua alis dan disini Tempat Penyakit ; Pelit / Kikir, Serakah, Khianat, Bodoh, Takabur, Syahwat, Pemarah.( Latifah Nafsi).
b.         ثم لوامة ( Nafsu Lawwamah) tempatnya dalam qalbu yaitu  dua jari di bawah susu kiri dan di sini tempatnya ;   Mudah   Tertarik, Pembinasa, Mengumpat, Selalu Ingin Dipuji, Tega, Bohong, Ceroboh ( Latifah Qolbi)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
c.       ثم ملهمة (Nafsu Mulhimah ) Dermawaan, Qana’ah/Menerima Apa  Adanya, Murah Hati, Rendah Hati, Insyaf, Sabaar, Kuat Menghadapi Kesusahan/Teguh ( Latifah Ruh)
d.       . ثم مطمئنة(Nafsu Muthma’inah) Sayang Sesama Makhluk, Tawakkul, Senang Beribadah, Syukur, Ridho, Takut Melanggar Larangan, Wara’ ( Latifah Siri)
e.       , ثم الراضية (Nafsu Rhodiyyah ) Baik Budi Pekerti (Mahmudah), Meninggalkan Daripada Selain Allah SWT, Welas Asih, Mau Menjalankan Kebaikan, Mau Membela Kesusahaan Orang Lain, Sayang Sesama Mahluk Hidup, Tahu Diri. ( latifah Khofa)
f.       ثم مرضية (Nafsu Mardliyyah) Ilmu Yaqin, Aenul Yaqin, Haqqul Yaqin ( Latifah Akhfa)
g.      ثم كاملة ( Nafsu kamilah ) Irsyad        : Petunjuk, Ikmal         : Sempurna, Baka Billah: Berkekalan, Kepada Allah SWT, Laduni     : Aspirasi, Tajalli Asma - Af’al - Dzat (Nama -  Pekerjaan – Bukti) ( Latifah Qolb)
Dan diantara penyakit qolbu dari tujuh Latifah atau tujuh Nafsu yang menjadi biang penyaki hanya nafsu amarohbissu. KH. Zezen Zaenal Abidin B.A. menadzomkan  dalam  kajian kitab  Al – Hikam sebagai berikut :
كبر وحرص شهوة ثم حسد # غضب بخل ثم حقد قد ورد
Dalam kitab Tanwirul Qulub Karangan Syekh Amin Kurdi ( 2006 : 429- 434) penyakit qalbu diperinci sebagai berikut :
1.      كبر ( Sombong atau Takabur)
Sombong adalah sifat jelek dalam diri manusia yang harus di bersihkan dalam arti lain sombaong adalah sifat menilai diri sendiri secara berlebihan, yang menjadikan atau menilai orang lain rendah dan hina dan tidak pernah bisa menghargai orang lain. Allah SWT  berfirman dalam Al – Quran surat Al – Baqarah ayat 34 :
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ
34.  Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
 Dan sebagai mana hadist nabi dalam kitab Al – Bukhari no 2749 yang di riwayatkan Abdullah bin Mas’ud :
الكِبْرُبَطِرُ الحَقُ وَغَمْطُ النَا سِ
Artinya : “kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia . ( HR. Bukhari Muslim no 2749)
Inilah yang membedakan antara Takabur dan Ujub kalau ujub hanya membagakan diri tidak meremehkan orang lain.
2.      حرص ( Tamak atau Kadeudemes)
Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya sedangkan istilah ulama tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram dan halal yang mengakibatkan dia  ter jerumus dosa sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memikirkan hak orang lain. Sebagai mana firman Allah SWT dalam Al – Qur’an surat An-Nisa ayat 32 :
وَلَا تَتَمَنَّوۡاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ وَسۡ‍َٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا
32.  Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah SWT kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah SWT sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Begitupun Rasullah SAW bersabda yang tercntum dalam kitab Al-Bukhari hadist ke 3429:
عَلَيْكَ بِالأَيَاسِ فِى اَيْدِي النَاسِ وَاِيَكَ والطضمْعُ فَانَهَ الْفَقْرُ الحَاضِرُ
Artinya: Hendaklah kamu berputus asa dari segala apa yang ada pada tangan orang lain, dan jauhilah sifat tamak karna sesungguhnya tamak adalah suatu kefakiran yang nyata. ( HR. Bukhari )
 Allah SWT melarang hambanya melakukan tindakan yang rakus, dan termasuk ahlak buruk terhadapnya, karna perbutan ini dapat menyebabkan seseorang lupa menyembah kepadanya, dapat berprilaku kikir, memeras harta, serta merampas hak- hak orang lain. Maka agama islam memberikan tuntutan kepada manusia, agar tidak terlalu mengejar nafkahyang seharusnya bukan ia yang pantas memeilikinya.   
3.      شهوة ( Tarikan Hawa Nafsu seperti Malas dan yang lainya )
Orang-orang mempunyai kefahaman yang khusus tentang tarikan dan pengontrolan hawa nafsu. Tidak setiap tarikan hawa nafsu kita lawan, seperti tarikan hawa nafsu untuk kebaikan dan tidak melawan aturan itu harus di motivasi.sedangkan tarikan hawa nafsu yang jelek harus di lawan, seperti malas,dan sebagainya. Sebagai mana firman Allah SWT  dalam Al – Qur’an surat yusuf ayat 53:
۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
53.  Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan RasAllah SWT pun bersabda dalam hadistt bukhari yang dikutip dalam kitab Sirrajul Athalibin karay Syekh Ihsan Muhhamad dahlan halaman 393 :
جَاهِدُوا أَهْوَاءَكُمْ كَمَا تُجَا هِدُونَ أعْدَاْءَكُمْ
Maksudnya: “ perangilah hawa nafsumu seperti kamu memerangi musuhmu “.
Nafsu yang tidak terurus dan terkontrol adalah hambatan terbesar byang menutup jalan hamba untuk nmeningkatkan Imannya kepada kesempurnaan. Maka jika mampu menahan dan melawan sifat liarnya nafsu dan terus berjuan mendekatkan diri pada alllah, maka manusia akan selamat  sampai menuju jalan ketaqwaan.
4.      حسد ( Dengki)
Hasad menurut bahasa adalah dengki sedangkan secara istilah menurut kitab tanwirul Qulub karangan syekh Amin Qurdi ( 2006 :430)
هُوَ الحَسَدُ بِمَعْنَى تَمَنِى زَوَالُ نِعْمَةِ الله عَنْ الغَيْرِ
Maksudnya Hasud adalah mengharapkan hilangnya ni’mat Allah SWT dari saudaranya.
Ibnu hazar mengatakan dalam kitab fathul bari halaman 481 juz 10. “ Hasad adalah orang berangan – angan hilnganya ni’mat dari orang-orang yang berhak. Sedangkan menurut imam Nawawi dalam kitan riyadusolihin halaman 466 :
صَاحِبِهَا ,سَوَاْءٌ كَنَتْ نِعْمَة دِيْنْ أَوْ دُنْيا تَمَنِى زَوَالُ نِعْمَةِ الله عَنْ   الحَسَدُ
Artinya: Hasad adalah seseorang yang berangan-angan  hilangnya ni’mat dari saudaranya, baik ni’mat agama maupun dunia.
Allah SWT  berfirman dalam Al – Qur’an surat Al – Baqarah ayat 109 :     
 وَدَّ كَثِيرٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَٱعۡفُواْ وَٱصۡفَحُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ
109.  Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah SWT mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Di dalam kitab Riyald As – Sholihin karya Imam Nawawi terdapat hadist yang melarang sifat dengki  yaitu:
إِيَاكُمْ والْحَسَدُ فَإنْ الحَسَدُ يَاكُلُث الحَسَنأ تِ كَمَا تَكُلُ النَارُ الحِطَابِ اوْ قَالَ ( رياض  الصالحين الآمام نواوي)
Artinya : “ Jauhilah dirimu dari perbuatan hasad, sebab perbutan hasad akan memakan perbuatan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau memakan rumput” ( Riyadlu As – Sholihin)
Orang yang hatinya di penuhi rasa dengki  hati dan dadanya akan sesak di penuhi Egoisme, maka selama hidupnya orang tersebut tidak akan merasa tenang hatinya. Dengki merupakan cita – cita hilangnya suatu kenikmatan yang di karunia Allah SWT  kepada seseorang, maupun hilangnya kenikmatan itu di cita – citakan untuk berpindah tangan kepada orang hasad itu atau hilang begitu saja, entah kemana, yang terpentingbagi orang hasad ialah lenyapnya nikmat itu.
5.      غضب ( Pemarah)
            Ghadab dalam kamus Al – Munnawir halaman  (1008 : 1997) di artikan “ Marah”  pemarah , sedangkan pemarah adalah orang yang lekas cepat marah. Secara istilah ghadab dalam kitab Tanwirrul Qulub karya syekh Amin Qurdi  (2006: 435) sebagai berikut:
هُوَ غَلَيَا نُ دَمُ القَلبِ لِطَلِبِ الأِنْتِقَا مِ
Artinya: “Mendidihnya darah qalbu (hati) karna ingin mencari kesengan hatinya”
Marah dalam bentuk negative tentu akan membakar hati, jiwa dan akalnya, dan membuat hatinya menjadi gelap, serta menutup datangnya cahaya Allah SWT  yang menjadikan kehidupan dia gelisah tidah menentu. Allah SWT  berfirman dalam Al – Quran  surat Ar – Ruum ayat 41 :
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
41.  Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah SWT merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan nabi Muhammad SAW bersabda dalan kitab Bukhari yang di kutip dalam kitab Tanwirul Qulub (2006 : 435) sebagai berikut :
 لَيْسَ الشَدِيْدَ بِالصَرْعَةِ إِنَمأ الشَدِيْدُ الَدِى يَمْلِكُ نَسَسَهُ عِندَ الْغَضَبِ (رواه البخارى)
Artinya :Orang yang kuat bukan orang yang menang berkelahi melainkan orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya saat dia marah “.  ( Tanwirul Qulub, HR. Bukhari ).
6.      بخل ( Kikir dan Pelit) lebih suka diberi dari pada memberi.
Bakhil atau kikir adalah menahan harta yang seharusnya di keluarkan. Menurut tafsir Al – maraghi jilid IV, Musthafa Al – Maraghi menjelaskan bakhil adalah tidak mau menunaikan zakat dan enggan mengeluarkan harta di jalan Allah SWT , sedangkan menurut KH.Zezen Zainal Abidin BA mengatakan bakhil adalah “ orang yang lebih suka di beri dari pada member, dan suka menahan hartanya”. Dan menurut syekh Amiin Kurdi dalam kitab Tanwirrul Qulub (2006:432) sebagai berikut :
هُوَ عَدَمُ الأِعِطَاءِ لِلْغَيْرِ خَوْفَ نَقْصُ المَل
Artinya : “ Bakhil adalah sifat tidak mau member pada orang lain karna takut hartanya berkurang”.
Allah SWT  berfirman dalam Al – Qur’an surat Ali- Imron ayat 180 :
وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
180.  Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah SWT berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah SWT-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah SWT mengetahui apa yang kamu kerjakan.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)

Imam Amin Kurdi mengutip dalam Kitab Tanwirrul Qulub  (2006 : 432)  hadist nabi tentang bakhil dikatan sebagai berikut :

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا (رواه الامام احمد)
“Hati-hatilah kamu terhadap sifat bakhil, karena bakhil telah merusak orang-orang sebelum kalian. Mereka memutuskan silaturahmi, berbuat bakhil dan berbuat maksiat, semuanya disebabkan oleh penyakit bakhil ini” (Hadits riwayat Imam Ahmad)
7.      حقد  ( Dendam)
Dendam dalam bahasa arab di dalam kamus Al – Munawir (1997:281) حقد  yang artinya “ dendam” , pendendan. Sedangkan menurut buku Uwes Al – Qorni. 1997 halaman 71. Marah dan dendam merupakanbawaan setan. Oleh karna itu, keduanya sama sam tercela sehingga kita harus menghindarinya. Allah SWT  berfirman dalam Al – Quran Surat An- Nurr ayat 22 :
وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
22. dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah SWT mengampunimu? Dan Allah SWT adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan nabi Muhammad SAW bersabda dalan kitab Bukhari yang di kutip dalam kitab Tanwirul Qulub (2006 : 435) sebagai berikut :
 لَيْسَ الشَدِيْدَ بِالصَرْعَةِ إِنَمأ الشَدِيْدُ الَدِى يَمْلِكُ نَسَسَهُ عِندَ الْغَضَبِ (رواه البخارى)
Artinya :Orang yang kuat bukan orang yang menang berkelahi melainkan orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya saat dia marah“.(Tanwirul Qulub, HR. Bukhari ).
4.      Konsep pendidikan dan pembersihan qalbu ( Tazkiyyatu Qolbi)
Tazkiyyatu An- Nafsi yang arinya pembersihan nafsu, pelatihan nafsu. Kamus Al – Munawwir 1997:577, pembersihan dan pelatihan merupakan pendidikan diri yang sangat mendalam, dan harus didik dan di olah oleh ahli yang benar dan kamil mukamil, Kh Zezen ZA, Kajian Kitab Al – Hikam. Dan di perkuat dengan ayat Al – Qur’an
Qolbu yang dimiliki oleh manusia sangatlah mulia dan istimewa yang tidak di muliki oleh mahluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, karena qolbu manusia mempunyai keistimewaan tersendiri yaitu pengetahuan tentang keesaan Allah SWT  (tauhid). sebagaiman hadist rasul dalam kitab Ihya’ Ulumudin karya Imam Ghozali juz 3 halaman 5 :
عن ابن عمررضى الله عنهما قال قيل لرسول الله صلعم.يَارَسُولَ اللهِ اَيْنَ الله فِى الْاَرْضِ اَمْ فِىْ السَمَاءِ ؟ قَالَ فِىْ قُلُوْبِ عِبَادِهِ الْمُؤمِنِينَ (رواه الطبرانى)
Artinya  : Dari Ibnu umar ra berkata: Dikatakan kepada rasulullah SAW: ya Rasulullah dimana Allah SWT, di bumi atau di langit? Rasulullah SAW menjawab: di dalam Qalbunya orang yang beriman

Dasar  dan tujuan pendidikan qalbu di ibaratkan dasar dari sesuatu bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan ketangguhan tegak berdirinya bangunan itu, di sebutlah pondasi begitupun dengan akar suatu pohon yang berfungsi sebagai pondasinya.
Sedangkan yang jadi sentral dalm diri manusia adalah qalbu, jika qalbunya baik maka baik juga seluruh badannya serta ahlaknya, sebagai mana hadist nabi dalam kitab Bukhari, hadistt ke 52 cetakan 2003 sebagai berikut.
إنَّ فى الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ,أَلاَ وَهِىَ الْقَلبُ (رواه البخار و المسلم)
Artinya : “ sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak juga seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia qalbu. (HR. Bukhari, 52 : 2003)
Sudah sepakat para ahli sufi, bahwa sebenarnya pekerjaan anggota badan tidak bisa di terima, kecuali di barengi oleh gerak amal qolbu. Akan tetapi amal qolbu bisa di terima meskipun tidak di barengi anggota badan. Sebabnya ialah apabila amal qalbu tidak di terima, sudah tentu imanya juga tidak akan di terima, sedangkan iman itu di tekadkan oleh hati, sebagai mana firman Allah SWT dalam Al – Qur’an surat Al – Mujadalah ayat 22 sebagai berikut:
أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ
22. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.
Adapun cara membersihkan qolbu menurut para ahli sufi dan pengamalnya sebagai berikut:
A.    Dzikrullah
1.       Pengertian Dzikir
Secara etimologi, dalam kamus Al – Munnawir (1997:448)  kata dzikir berakar pada kata ذَكَرَ، يَذْكُرُ، ذِكْرًا   artinya ingat, menyebut, mengucapkan, mengagungkan, mensucikan, mengingat Allah SWT. Sedangkan dzikir dalam arti menyebut Nama Allah SWT yang diamalkan secara rutin, biasanya disebut wirid atau aurad . Dan amalan ini termasuk ibadah murni (mahdhah), yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Sebagai ibadah Mahdhah maka dzikir jenis ini terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah SWT, yaitu harus ma’tsur (ada contoh atau perintah dari Rasulullah Saw).
Secara terminologi definisi dzikir adalah tali yang bersambung antara hamba dengan tuhannya. Dan dzikir dapat memberi kesehatan pada ruh dan badan serta dapat menghilangkan ketakutan dan kesedihan antara seorang abdi dengan tuhannya. Dzikir merupakan sikap batin yang bisa diungkapkan melalui ucapan Tahlil (La Ilaha illa Allah SWT, Artinya,  Tiada Tuhan Selain Allah SWT), Tasbih (Subhana Allah SWT, Artinya Maha Suci Allah SWT), Tahmid (Alhamdulillah, Artinya Segala Puji Bagi Allah SWT), dan Takbir (Allah SWTu Akbar, Artinya Allah SWT Maha Besar).
Sedangkan menurut Imam Al Ghazali, dalam kitabnya ihya’ulumuddin, juz 3 (2003: 537) dzikir adalah ucapan yang dilakukan dengan lidah, atau mengingat Allah SWT dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mensucikan Allah SWT dengan memuji dengan puji-pujian dan sanjungan-sanjungan dengan sifat yang sempurna, sifat yang menunjukkan kebesaran dan kemurnian. Dalam arti lain bahwa dzikir adalah menenggelamkan qolbu dalam ingatan kepada Allah SWT (Istighraqul Qolbi Bii Dzikrulloh)
Dzikir sebagai fungsi intelektual, ingatan kita akan apa yang telah dipelajari, informasi dan pengalaman sebelumnya, memungkinkan kita untuk memecahkan problem-problem baru yang kita hadapi, juga sangat membantu kita dalam melangkah maju untuk memperoleh informasi dan menerima realitas baru. Namun dalam pengertian disini, pengertian  yang dimaksud adalah ”Dzikrullah”, atau mengingat Allah SWT.
Dzikir dalam pengertian mengingat Allah SWT sebaiknya di lakukan setiap saat, baik secara lisan maupun dalam hati ataupun perbuatan. Artinya kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang muslim sebaiknya jangan sampai melupakan Allah SWT. Dimanapun seorang muslim berada, sebaiknya  selalu ingat  kepada Allah SWT sehingga akan menimbulkan cinta beramal saleh kepada Allah SWT, serta malu berbuat dosa dan maksiat kepadanya.
Bagi seorang shufi, Abu Darda R.A, di jelaskan dalam kitab Syu’abul Iman. “Setiap sesuatu memiliki pengilap,sedangkan pengilap hati adalah dzikir kepada Allah SWT” dan dzikir juga merupakan tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah SWT , Dan tidak seorangpun dapat mencapai Allah SWT , kecuali terus menerus berdzikir kepada Allah SWT. Tidak diragukan lagi bahwa hati bisa berkarat sebagai mana berkaratnya tembaga, perak, dan logam lainnya. Dzikir lah yang dapat menjadikannya berkilau sebagaimana cermin yang bening. Meninggalkan dzikir akan membuat hati berkarat dan melapalkan dzikir akan menjadikan hati bersinar. Hati akan berkarat dengan dua hal, yaitu kelalaian dan dosa. Hati juga akan berkilau dengan dua hal, yaitu istighfar dan dzikir.Di dalam firman Allah SWT Q.S Huud, ayat: 3.
وَأَنِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُمَتِّعۡكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى وَيُؤۡتِ كُلَّ ذِي فَضۡلٖ فَضۡلَهُۥۖ وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ كَبِيرٍ
3.”dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)

Dzikir bila di kaji termasuk “Tauhid Uliuhiyyah” atau “ Tauhid Ibadah” bila di tinjau dari ilmu tasawuf, dzikir termasuk dalam aliran atau madzhab amali.madzhab tasawuf ini adalah madzhab untuk mencapai ma’rifatullah dengan pendekatan melalui dzikir.
Pada hakikatnya, orang yang sedang berdzikir adalah orang yang sedang berhubungan dengan Allah SWT . Seseorang yang senatiasa mengajak orang lain untuk kembali pada Allah SWT  akan memerlukan dan melakukan dzikir yang lebih dari seorang muslim biasa. Karna pada dasarnya, ia ingin menghidupkan hati kembali hati mereka yang mati. Karna sangat begitu pentingnya Dzikir dalam Al – Quran kata dzikir disebut sebanyak 267 kali dengan berbagai bentuk kata. Nawawi, Risalah Pembentuk hati, 253: 2003) . diantaranya bermakna mengingat Allah SWT  arti menghadirkan dalam hati. Sebagai mana firman Allah SWT dalam Al- Quran surat At – Thaha ayat 14 :
 إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ
14.  Sesungguhnya Aku ini adalah Allah SWT, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Ayat lain menyebutkan bahawa orang yang berdikir akan mendapatkan ketentraman hati seperti firman Allah SWT   dalam Al – Quran surat Ar- Ra’d ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
28.  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah SWT-lah hati menjadi tenteram.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan Allah SWT  memerintahkan semua mahluknya untuk berdikir sebanyak banyaknya sebagaimana firman Allah SWT  dalam Al –Quran surat Al – Ahzab ayat 41 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا
41.  Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah SWT, zikir yang sebanyak-banyaknya.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Qalbu yang sakit dan yang mati harus di upayakan agar menjadi qalbu yang hidup. Mati dan sakitnya qalbu di sebabkan kotoran – kotoran dosa yang melekat dalam qalbu dan menjadikan qalbu mati, maka upaya yang pertama dalam pembersihan adalah dzikrulloh sebagaimana hadist nabi mengatakan :
ان لكل شيء صقالة وصقالة ذكر الله
Artinya: sesungguhnya segala sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih qalbu adalah dzikrullah.(Miftahu Shudur 1993:9)
Adapun Imam Al –Qusyairi yang di kutip dari buku karya KH. Zezen Zainal Abidin BA, Dari Salik menuju Sang Kholiq, 80. Bahwa dzikir adalah mengingat Allah SWT yang tidak terbatas waktunya, selanjutnya beliau mengatakan :”shalat sehari-hari merupakan amal ibadah termulya.
Menurut Syekh Ibnu Atthaillah dalam kitab Al- Hikam (2000:107) dzikir adalah “melepaskan diri dari kelalaian dengan senantiasa menghadirkan qalbu bersama Al- Haq, ini bila dilakukan dengan mengingat dan merenungkan keagungan serta kemulyaan Allah SWT”, tanda-tanda kekuasaanya dilangit dan dibumi. Sebagaimana pernyataan KH. Zezen Zainal Abidin BA yang dikutif dari syarah Al- Hikam:”tidak terjadi dzikir pada lahirnya kecuali timbul dari pemikiran dan kesadaraan dan penglihatan bathin”.
Selanjutnya syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin berpendapat bahwa dzikir adalah perkalbuan (mengingat) yang tidak terbagi- bagi terhadap Allah SWT  dengan menepikan segala ingatan yang bukan Allah SWT, selanjutnya beliau jelaskan dzikir tersebut harus dilaksanakan dengan langgeng (istiqomah), karna dzikir yang tetap ingatanya kepada Allah SWT maka akan tersa baginya selalu di pimpin dan di bimbing oleh Allah SWT, merasa segala amal lakunya selalu di lihat dan diawasi oleh Allah SWT .
 Syaikh Ibnu Taymiyyah pun berpendapat “dzikir” bagi Qalbu ibarat air bagi ikan, apa jadinya bila ikan di keluarkan dari air?” ( Al – Jauziyyah, 2002 : 40). Artinya, hidup dan matinya kalbu tergantungdari kekuatan ingatan kepada Allah SWT  dan apalah jadinya manusia jika mati qalbunya? .
Demikian beberapa pendapat ulama yang mengungkapkan seputar tengtang dzikir, maka jelaslah disini apa itu dzikir. Bahwa dzikir artinya “eling” atau “inget”, secara umum segala sesuatu amalan yang bertujuan mencapai ridho Allah SWT . Adalah Dzikir.
Tetapi maksud dzikir di sini adalah dzikir yang paling utama diucapkan dan dapat menembus kedalam Qalbunya, sehingga dapat membersihkan qalbu dan segala penyakitnya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yaitu dzikir yang bersilsilah dan mu’tabarah, atau yang menggunakan cara, metode, thariqat,  yang memiliki sasaran, tujuan yang jelas dan terarah di bawah bimbingan mursyid yang kamil mukamil.
Dzikrullah merupakan amalan yang paling utama dan merupakan jalan yang terdekat menuju Allah SWT, sebagaimana Rosulullah menunjukan kepada Sayyidina Ali R.a dikutip dari kitab Miftahussudur, Juz 1 halaman 13:
دُلَّنِى عَلَى أَقْرَبِ الطُرُقِ إِلَى اللهِ وَاسهلها عَلَى عِبَا دهِ وَافْضَلُهَا عنْدَ اللهِ فقَالَ النَبِى : عَلَيْكَ بِمُدَاوَمةِ ذِكْرِ اللهِ (مفتاح الصدور,1 :13)
Ya Rasulullah !  tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah SWT dan yang paling mudah serta paling utama dapat ditempuh oleh hambanya di sisi Allah SWT ? maka bersabdalah Rasulullah SAW ; “Hendaklah kamu lakukan dzikir yang kekal (dawam)”.
Dengan adanya keterangan-keterangan para ulama shufi menggunakan dzikrullah sebagai metode dalam mendidik qolbu manusia. Bahkan dzikrullah yang paling apdol dalam mendidik qolbunya, (Imam Abdul Wahab Asy-Sya’roni : 1995:153)
Sehingga timbulah berbagai thoriqoh dalam kalangan shufi yang menggunakan jenis dzikir tertentu, sesuai dengan thoriqoh nya masing-masing. Akan tetapi pada umumnya yang dilaksakan adalah dzikir Nafi (Jahar) dan Isbat (Sirr), yaitu dzikir yang menggunakan kalimat LAAILAHA ILLALLAH SWT (Aboe Bakar Atjeh, 1987 : 130).  Sebagaimana hadistt nabi yang dikutif dalam kitab Miftahussudur juz 2 halaman 17 :
ثُمَ قَالَ لَوْ جَاءَ قَائِلُ لَااِلهَ اِلَّااللّه بِقُرْبِ اَلأَرْضُ دُنُوبًالَغَفَرَاللَّهُ لَهُ ذَلِكَ (رواه الترمذى)
Artinya : “Jika ada seorang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH SWT secara benar, meskipun ia mempunyai dosa sebesar bumi akan diampuni Alllah dosa tersebut”.
Selanjutnya KH.Syeikh Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin dalam kitabnya “Miftahussudur” menerangkan bahwa kalimat tersebut diatas disebut juga kalimah thoyyibah yang dapat mensucikan orang yang berdzikir de ngannya dari syirik jail dan syirik khofi, serta menjadikan orang tersebut ikhlas-mukhlis. Begitu juga keutamaan kalimat ini adalah dapat menanggalkan dari segala hijab yang terkait dengan segala kebendaan, serta dapat membersihkan jiwa dari berbagai kekotoran dan sifat-sifat kebinatangan. Juga kalimat thoyyibah ini dapat member kepada orang yang berdzikir dengannaya berupa kaysap, safat shiddiq, ikhlas, ilmu laduni, rahasia-rahasia ghaib, serta musyahadah terhadap Tajaliyah Ilahiyyah. Disamping berbagai materi dan wirid diatas juga materi yang juga tidak kalah penting adalah dengan memperbanyak ibadah sunnah (nawafil) sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT yang akan menyebabkan dicintai oleh-Nya sebagaimana telah diisyaratkan oleh hadistt qudsi yang terkenal:
مَايَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنّوَافِلِ حَـتَّى اُحِبُّهُ فَاَكُوْن سَمْعُهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ وَلِسَانَهُ الَّذِى يَنْطِقُ بِهِ وَقَلْبَهُ الَّذِى يَعْقِلُ بِهِ فَاِذَادَعَانِى اَجَبْتُهُ وَاِذَاسَأَلَنِى اَعْطَيْطُهُ وَاِنِ اسْتَنْصَرَنِى نَصَرْتُهُ وَآُحِبُّ مَاتَعْبُدُنِى بِهِ النّصْحُ لِى (البخارى الجزء الثالث : 105 )
Artinya : “Hamba-ku senantiasa mendekatkan diri kepada Ku dengan amalan sunat, sehingga aku mencintainya. Oleh karena itu aku menjadi pendengarannya yang dengan nya dia mendengar, dan menjadi penglihatannya yang dengannya dia berbicara, dan aku menjadi akalnya yang denganya dia berfikir. Apabila dia berdoa, maka aku mengabulkanya. Apabila dia meminta kepadaku, maka aku memberinya. Apabila dia meminta pertolongan kepadaku, maka aku menolongnya. Dan ibadah yang di lakukan untukku yang sangat aku sukai adalah menunaikan kewajibannya dengan sebaik- baiknya untukku”.(Al Bukhari Juz 3:105)
Berbagai materi wirid dan riyadhloh berupa ibadah – ibadah sunat di atas, tidak lain sebagai perwujudan amaliah keseharian dari Syariat islam sebagai wahana mendidik dan membersihkan qalbu sebaik mungkin sehingga dapat berma’rifat dan bertaqorub kepada Allah SWT.
b). pembagian dzikir
 1. Dzikir Jahar ( Nafi dan Itsbat )
Dzikir jahar artinya berdzikir dengan cara keras, nyata dan jelas. Demikian menurut pakar mengatakan . “ Dzikir jahar adalah dzikir dengan mulut, sehingga nyata terdengar suaranya dan nyata pulanya yaitu dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh.. ( Juhaya S. Pradja, 1995 : 19)
Berdasarkan diatas, dzikir jahar berarti mengucapakan menyebut nama Allah SWT  dengan suara di keraskan dapat juga disebeut dzikir lisan. Dengan cara seperti ini adalah suatu tahap untuk menjadi seorang dzakir menyeluruh, dengan kekutan dzikirnya maka keluarlah energi illahi yang menyeluruh menyapu seluruh tubuh, merontokan segala dosa dan kesalahan, maka segenap wujudnya menyatu dengan Allah SWT yang penuh ketenagan dan kedamaian.
Maka berkatalah syaikhul kamil Ibrohim Al- Mathuli R.A “angkatlah suaramu dikala engkau berdzikir sampai mencapai kumpulnya kekuatan bathin (jamiyyat)seperti orang orang arifin, Jami’yyat itu berkumpulnya fikiran dan perasaan “Thawajjuh” menghadap tuhan, selalu cenderung kepadanya putus dari segala fikiran dan perasaan lainnya.
Memberikan penjelasan syaikh abdul mawahib  As- Sadzilii ra. “Ulama – Ulama berlainan pendapat tentang dzikir, katanya :” manakah yang lebih utama, apakah apakah dzikir jahar atau sir?, di situ aku berkata :” tentang dzikir jahar sangat utama agar menambahkan bulat tekad, teguhnya bathin tauhid kepada Allah SWT , kuat dari segala pengaruh mahluk untuk tingkatan manusia yang baru belajar”. Allah SWT  berfirman dalam Al – Qur’an surat An – Nurr ayat 36:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ
36.  Bertasbih kepada Allah SWT di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petan. ( Q.S. An – Nurr : 36).( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Dan dalam ayat lain, Al –Qur’an menjelaskan dalam surat Al – Baqoroh ayat 200) sebagai berikut:
 فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ
200.  Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah SWT, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Q.S. Al – Baqarah: 200). (Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
2. Dzikir Khofi ( dzikir itsmu dzat)
Maksud dzikir khofi adalah dzikir yang di lakukan dengan samara tau tersembunyi dengan menggunakn rasa  (dzawuq) didalam qalbu, dzikir ini di sebut juga dzikir itsmu dzat. Yaitu mendzikirkan nama Allah SWT di dalam qalbu ( tidak Jahar). Dalam hal ini syaikh Abdul Qadir jailani menjelaskan :”bahwa Itsmu dzat adalah lafadz Allah SWT . inilah kalimat yang dapat menghilangkan kebingungan dan membukakan ketertutupan dan menetralisir racun dalam qalbu dan jiwa.
Mengingat Allah SWT dengan Itsmu dzat berarti mengingat dzat Ilahi atau tuhan, yakni Allah SWT serta semua sifatnya berkaitan dengan Allah SWT, setiap nama – nama Allah SWT dari Asmaul Husna mempunyai cahaya Khusus dan memiliki pengruh tertentu, sedangkan nama dzat Allah SWT sumber segala sesuatu cahaya Allah SWT dan segala sumber sifat. Allah SWT  berfirman dalam Al –quran surat Al – A’rof ayat 205 :
وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ
205.  Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Surat Al- A’raf ayat 55:
ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ
55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
B.  Ryadhloh
Adapun kata Ryadhloh berasal dari bahsa arab secara etimologi berasal dari kata راض   yang artinya. “melatih, menunduksn, menjinakan,”  Kamus Al – Munawir, 1997: 548. Sedangkan menurut istilah Riyadlhoh adalah “ latihan menyempurnakan diri secara terus menerus, melalui Zikir dan amalan sunat lainnya yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT . ( Kh Zezen ZA, Kajian kitab Al- Hikam, Bab 35: 107 ), Allah SWT  berfirman dalam alquran surat Al – Maidah ayat 35:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
35.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)





  Dan surat Al – Ankabut ayat 69 :
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
69.  Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.( Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Syamil, 2004)
Sebagai mana hadist nabi dalam kitab Khojinatur Asror yang di kutif dari kitab Al Bukhari 2000 : 57 :
جَأ هِدُ وا أَهْوَ اْءَكُم  كَمأَ تُجَا هِدُونَ اَعَْاءَكُمْ (من خزنة العصرار :57)
Maksudnya: “perangilah hawa nafsumu seperti kamu memerangi musuhmu”.(khojinatur Asror 57)
Dari uraian dalil – dalil diatas bahwa di untuk menjadi manusia yang sempurna dan dekat dengan Allah SWT, harus dilatih dan seorang pelatih atau pebimbing ( Murrobii’), karna suara bathin yang di pertajam melalui melalui riyadhah “latihan” adalah khas kodrat manusia, artinya hanya manusia yang mampu mendengar dan sekaligus mengendalikan suara bathinya. Itulah sebabnya, manusia harus terus berjuang mengendalikan dan melatih diri dan hati nuraninya. Supaya bisa meleati maqam tahali dan tajjalia, atau makam asbab  dan maqam tajrid yang melati empat lapis alam yaitu : alam mulki, malaku jabarut lahut. Dan bila manusia mampu meleati hal – hal tersebut maka manusia menjadi manusia yang paripurna atau menjadi manusia yang “ kalau dia meliat, maka penglihatannya, penglihatan Allah SWT, dan segala sesuatunya selalu berhubungan dengan Allah SWT.

Posting Komentar

0 Komentar